A. oleh nilai-nilai agama, dan moralitas agar anak dapat

A.      
Latar
Belakang

Pendidikan
anak usia dini (early child educatioan/PAUD) adalah masa yang paling optimal
untuk berkembang. Pada masa ini sangat penting dilaksanakan pendidikan secara
bersama sebagai dasar pembentukan kepribadian manusia dewasa secara utuh, mulai
dari pembentukan karakter, tauladan berbuat baik, penanaman budi pekerti luhur,
kecerdasan, keterampilan dan pengenalan terhadap Tuhan pencipta alam semesta.
Pendidikan anak usia dini tidak hanya pada penguasaan calistung saja,
tetapi harus lebih tinggi dari itu dengan mengembangkan semangat sebagai penemu
cilik, mengembangkan kreativitas, memiliki percaya diri, kemampuan
berinteraksi, dan mengaplikasikan pemahaman tentang nilai-nilai kebaikan.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Bahasa
adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain yang mencakup semua cara untuk
berkomunikasi, di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan,
tulisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata, simbol, lambang,
gambar, atau lukisan. Melalui bahasa setiap manusia dapat mengenal dirinya,
sesamanya, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.
Bahasa merupakan bagian penting dalam kehidupan, karena bahasa menghubungkan
lainnya dengan melalui proses berbahasa yang dapat menyampaikan pesan/maksud
yang ingin disampaikan kepada orang lain, sehingga orang lain akan memahami apa
yang disampaikan. Perkembangan bahasa anak merupakan kemampuan dasar yang harus
dimiliki anak.

Metode bercerita merupakan metode
pembelajaran yang dilakukan untuk mempermudah penyampaian sebuah pesan kepada
anak usia dini. Dengan menggunakan metode bercerita diharapkan anak usia dini
lebih mudah memahami dan menyerap segala sesuatu hal positif yang telah
disampaikan dengan suasana yang menyenangkan serta sekaligus belajar tentang
beberapa hal baru. Masa
usia dini merupakan rentangan usia peka, dimana dalam masa tersebut potensi
anak akan berkembang sesuai dengan lingkungan tempat anak berada. Oleh karena
itu, tugas guru dan orang tua untuk mengembangkan potensi anak seoptimal
mungkin dengan cara menyediakan lingkungan berupa kegiatan yang sesuai dengan
perkembangan anak. Salah satu potensi anak yang sangat perlu diperhatikan
adalah potensi penalarannya terhadap moral. Penalaran anak terhadap moral akan
mempengaruhi pembentukan karakternya.

Pengembangan karakter pada anak
usia dini yang didasari dengan pengembangan nilai dan sikap anak dapat
menggunakan kegiatan bercerita yang memungkinkan terbentuknya kebiasaan-
kebiasaan yang didasari oleh nilai-nilai agama, dan moralitas agar anak dapat
menjalani hidup sesuai dengan norma yang dianut masyarakat. Metode Bercerita
merupakan metode yang banyak digunakan oleh guru anak usia dini, yang
disampaikan dapat berupa pesan, informasi atau sebuah dongeng yang untuk
didengarkan dengan cara yang menyenangkan.

Cerita digital dapat didefinisikan sebagai
pengisahan cerita yang dilakukan dengan menggunakan teknologi digital sebagai
media atau metode ekspresi, khususnya dengan menggunakan media digital di
lingkungan jaringan komputer. Pengisahan cerita digital mencakup karakteristik
utama ini: Fleksibilitas, universalitas, interaktivitas dan pembentukan
komunitas). Fleksibilitas dalam cerita digital mengacu pada penciptaan cerita
non linier dengan menggunakan teknologi media digital. Universalitas berarti
siapapun bisa menjadi penghasil cerita digital, karena tersedianya komputer dan
perangkat lunak yang mudah digunakan. Interaktivitas mengacu pada partisipasi
pengguna dalam pengembangan cerita dengan menggunakan karakteristik media yang
bisa saling dipertukarkan.

Mendongeng atau
storytelling merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat
produktif, sehigga menjadi bagian dari keterampilan berbicara. Keterampilan ini
lah yang dapat menumbuhkembangkan keterampilan berbicara sebagai keterampilan
berkomunikasi dan seni. Kegitan ini dapat dilakukan oleh guru sebagai pemimpin
di hadapan para murid secara langsung baik dengan cara bercerita, beryanyikan
dengan musik atau tanpa musik, dengan gambar atau dengan alat peraga lain yang
dapat di pelajari oleh guru secara lisan atau visual melalui sumber tercetak,
ataupun melalui sumber rekaman mekanik. Storytelling dapat menggambarkan
peristiwa yang sebenarnya maupun berupa fiksi serta penggambaran tentang
kehidupan yang dapat berupa gagasan, kepercayaan, pengalaman pribadi,
pembelajaran tentang hidup melalui sebuah cerita. 

Kemampuan
bahasa merupakan salah satu bagian yang
menjadi hal penting dalam kehidupan seseorang,  sebab tanpa bahasa
manusia tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan ide,
gagasan pikiran, dan perasaan kepada manusia lainnya baik dalam situasi formal
maupun situasi non formal. Bahasa merupakan sarana dalam berkomunikasi dengan
orang lain dan kemudian terjadilah suatu interaksi. Setiap individu pasti bergaul dan berkomunikasi,untuk mencari
informasi serta mengendalikan pikiran, sikap dan perbuatan dengan menggunakan
bahasa.

Kegiatan
storytelling ini penting untuk dilakukan terutama dalam massa tumbuh
kembang anak. Selain itu, mendongeng juga memiliki manfaat bukan hanya bagi
anak tetapi juga bagi orang yang mendongengkannya. Kegiatan pembelajaran
melalui storytelling, anak akan merasa belajar membaca itu menyenangkan
sehingga kesan pengajaran tidak secara terpaksa.

 

 

 

B.       
Tujuan

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sejauhmana kegitan storytelling
ini berlangsung di TK Atsiri Permai sehingga hasil yang diperoleh dari
kegiatan ini memberikan dampak positif bagi anak-anak dalam meningkatan bahasa.
 

 

 

C.      
Metode

Penelitian ini dilakukan pada kelompok TK Atsiri Permai Kecamatan Bojonggede
Kabupaten Bogor Jawa Barat Tahun Pelajaran 2016-2017 dengan jumlah 20 anak yang
terdiri dari 11 anak perempuan dan 9 anak laki-laki. Dalam hal ini peneliti menggunakan metode kualitatif dalam pengumpulan
data. Peneliti melakukan wawancara terhadap 2 guru yang mengajar di TK Atsiri Permai, yaitu dengan Ibu Nina Suyani, S.Pd dan Ibu Nuryaningsih S.Pd. Penelitian ini merupakan
penelitian tindakan kolaboratif, yaitu peneliti bekerjasama dengan guru ke
dalam melaksanakan penelitian. Untuk melakukan analisis data kualitatif ini meliputi reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan

 

 

 

D.       Pembahasan

Menyajikan storytelling yang menarik bagi
anak-anak bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Terlebih lagi
anak-anak hanya dapat berkonsentrasi mendengarkan cerita hanya dalam waktu
singkat, jika waktu mendongeng yang dilakukan terlalu lama akan membuat anak
merasa cepat bosan dan tidak antusias lagi terhadap cerita. Dengan adanya
kegiatan storytelling tentu dapat memberikan pengaruh pada anak. Pengaruh
tersebut dapat berupa pertumbuhan minat baca. Storytelling merupakan salah satu
cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif atau pengetahuan,
afektif atau perasaan, sosial, dan aspek konatif atau penghayatan anak-anak.
Indonesia memiliki keragaman cerita baik dari sejarah, tradisi atau
penggabungan  keduanya dengan berbagai
genre di dalamnya  baik tertulis, lisan
dan e-stroytelling seperti cerita pendek, masa kerajaan, fiksi, non
fiksi, sehingga guru memiliki ketersedian cerita yang banyak.

Pada dasarnya setiap anak pasti sudah memiliki
kemampuan berbahasa lisan pada dirinya
masing-masing, hanya saja hal ini tergantung bagaimana guru menstimulasi
kemampuan tersebut. Sesuai hasil pengamatan dan temuan peneliti selama melakukan pelaksanaan tindakan terdapat beberapa masalah yang menyebabkan
kemampuan berbahasa lisan pada anak masih berada pada kriteria kurang. Setelah diterapkan metode bercerita dengan media audio visual
kemampuan berbahasa lisan anak meningkat dengan cukup baik ini terbukti dari
hasil penelitian berupa catatan lapangan dan hasil wawancara guru, menunjukkan
terjadinya perubahan perilaku anak dalam kemampuan berbahasa secara lisan.
Kemampuan berbahasa lisan anak-anak TK
Atsiri Permai setelah diterapkan metode bercerita dengan media audio visual
mengalami peningkatan baik pada setiap aspeknya maupun pada setiap indikatornya.

Mendongeng
tidak semata hanya pengantar tidur tentang mitos atau sejenisnya, tetapi juga
kejadian-kejadian nyata yang dikemas sedemikian rupa dengan bantuan teknologi
sehingga menarik dan kaya pesan moral. Cerita-cerita yang mengandung
nilai-nilai yang bertentangan dengan moral dan humanisme bisa saja isi atau
jalan cerita diubah, sesuai nilai-nilai budaya lokal, norma atau agama. Efek
dari aktivitas ini cenderung membentuk kepribadian anak menjadi baik dan secara
tidak langsung mengajarkan budaya lokal tersebut sebagai aset yang tidak
ternilai harganya.

Metode-metode
yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara
menurut (Drs.
Djago Tarigan : 1987,
 91-129) yaitu : Metode atau
teknik pengajaran berbicara yaitu : 1) Ulang Ucap, 2) Lihat dan Ucapkan, 3)Mendeskripsikan, 4) Substitusi,
5) Transformasi, 6) Melengkapi Kalimat, 7) Menjawab pertanyaan, 8) Bertanya, 9)
Pertanyaan menggali (Probing Questions), 10) Melanjutkan Cerita, 11) Cerita
berantai, 12) Menceritakan kembali, 13) Percakapan, 14) Paraphrase,
15) Reka cerita gambar, 16) Memberi petunjuk, 17) Bercerita, 18) Dramatisasi, 19)
Laporan pandangan mata, 20) Bermain peran,
21) Bertelepon, 22) Wawancara, 23) Diskusi. Metode Storytelling (bercerita)
sudah sesuai dengan prinsip keterampilan
berbicara dan metode-metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan
berbicara. Metode Storytelling (bercerita) dengan
media auio visual  merupakan metode pembelajaran yang berusaha
untuk mengasah kemampuan bebahasa lisan 
anak melalui
kegiatan bercerita tentang suatu masalah
atau cerita.

Cerita dapat digunakan pada bahasa dengan berbagai tujuan, termasuk
memperbaiki bahasa, peningkatan kemampuan baca tulis, menginformasikan
literatur bahasa. Cerita dapat dikenalkan dengan membaca suatu teks melalui
suara yang keras, irama,  bentuk bahasa
dengan kontektual agar dapat melibatkan peserta didik kepada gagasan dan
isu-isu yang dibahas pada cerita. Dengan adanya cerita memberikan sumber
informasi budaya, konteks dari cerita, serta menyediakan tempat untuk
mempertimbangkan bagaimana budaya dan bahasa dapat terjalin. Cerita juga
digunakan untuk mendidik, menanamkan nilai moral, menghibur, serta memberikan
pemahaman budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Dengan mendogeng dapat menghasilkan berbagai kesamaan
pemahaman, mengabadikan sejarah, hingga mengaitkan antara pengalaman dan
bahasa.

Cerita tentang pengalaman anak dan faktor
tradisional merupakan sumber cerita terbaik bagi anak-anak. Ada beberapa
kategori cerita yang dapat digolongkan, yakni cerita untuk program inti, cerita
untuk program pembuka, dan cerita untuk tujuan rekreasi pada akhir program.
Cerita untuk program inti, yang digunakan dalam kegiatan inti cerita ini,
disampaikan oleh guru sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Misalnya cerita tentang bebek si buruk rupa. Cerita ini menggambarkan seekor
bebek yang buruk rupanya, namun hatinya baik dan suka menolong. Dari cerita
ini, tujuan pembelajaran yang ingin ditanamkan guru yaitu menanamkan rasa
saling tolong-menolong dan tidak membeda-bedakan teman. Cerita untuk program
pembuka dan penutup, disampaikan pada kegiatan inti dan penutup. Yang menyampaikan
adalah anak, sedangkan guru hanya memberikan stimulasi. Misalnya, anak
bercerita mengenai pengalamannya sehari-hari dalam berbagai hal yang dilakukan.
Adapun cerita untuk tujuan rekreasi disampaikan pada akhir program. Cerita ini
disampaikan oleh anak setelah anak melakukan liburan akhir minggunya.

 

 

 

E.       
Hasil

Dari
wawancara yang dilakukan kepada beberapa anak di dapati siswa merasa senag saat
mendengarkan cerita yang disampaikan guru dan juga dapat mereka dapat
mengetahui serta memperbaiki bahasa yang 
digunakan mesekipun tidak maksimal. Kegitan bercerita ini memberikan
dampak positif bagi siswa dalam meningkatkan kemampuan berbahasa yang baik,
selain itu siswa juga dapat melatih daya tangkap apabila kegiatan storytelling
dilakukan secara maksiamal. Namun dari hasil yang didapati untuk mencapai keterampilan berbahasa
meliputi keterampilan mendengarkan, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
dengan bantuan storytelling ini tidak berjalan maksimal.

 

 

 

F.       
Kesimpulan

Berdasarkan
hasil analisis, maka dapat disimpulkan sebagai berikut bahwa melalui kegiatan Storytelling dapat meningkatkan kemampuan berbahasa lisan pada anak-anak TK Atsiri Permai. Peningkatan ini disebabkan setelah adanya isi ceritanya lebih
sederhana, cerita yang ditampilkan menarik dan diiringi dengan memberikan
motivasi kepada anak serta anak-anak pun menjadi sangat
antusias ketika penerapan storytelling ini dilakukan.

 

 

G.      
Saran

Diharapkan
dalam penerapan storytelling
(bercerita) guru lebih mampu menyediakan sarana dan prasarana untuk kegiatan
bercerita dan meningkatkan kemampuan kompetensi dalam bercerita melalui
pelatihan agar lebih mampu menjiwai cerita. Dan untuk menjadikan
anak memiliki budaya baca yang baik, maka perlu melakukan pembinaan minat baca
anak baik kepada guru maupun sekolahan. Pembinaan ini merupakan langkah awal
sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca.